Latar Belakang

Provinsi Jambi memiliki lahan basah yang didominasi lahan gambut dan rawa. Lahan gambut yang ada di Provinsi Jambi adalah terbesar di Pulau Sumatera, setelah Provinsi Riau dan Sumatera Selatan (Wahyunto et al. 2014). Luas lahan gambut yang tersedia di Propinsi Jambi 900.000 Ha (Badan Restorasi Gambut Jambi 2018). Salah satu kabupaten yang memiliki kawasan gambut dan rawa adalah Kabupaten Tanjung Barat. Sebagian wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Barat merupakan bagian dari kawasan pantai Timur Sumatera yang ditunjukan dengan ciri-ciri tenggelamnya daratan rendah dibawah permukaan pada zaman kuarter tua. Ekosistem rawa di Kabupaten Tanjung Jabung Barat didominasi oleh vegetasi mangrove.

Gambut yang terdapat di wilayah kabupaten Tanjung Jabung Barat umumnya dimanfaatkan masyarakat untuk perkebunan kopi jenis kopi liberika. Jenis kopi liberika menjadi komoditas penting yang dikembangkan masyarakat pesisir di Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Kopi liberika yang ditanam di Kabupaten Tanjung Jabung Barat dikenal dengan nama Liberika Tungkal Komposit (LIBTUKOM). Tanaman kopi ini telah dibudidayakan secara turun-temurun sejak tahun 1940.

Kopi liberika merupakan jenis tanaman kopi yang menarik untuk diteliti. Kemampuannya dalam beradaptasi di jenis lahan yang berbeda, termasuk lahan gambut merupakan salah satu keunggulan kopi liberika. Salah satu keunikan jenis kopi ini adalah kemampuannya untuk tumbuh di dataran rendah dan tanah gambut yang memiliki tingkat keasaman yang cukup tinggi. Tanaman kopi liberika mampu berkembang dengan baik di keadaan wilayah yang seperti ini, yakni tidak memerlukan perawatan khusus bahkan tidak perlu menggunakan pupuk. Kopi ini telah ditetapkan sebagai varietas bina melalui Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia No. 4968/Kpts/SR.120/12/2013 tanggal 6 Desember 2013 dan semakin populer di kalangan pecinta kopi setelah mendapatkan pengakuan Hak Paten dan Sertifikasi Indikasi Geografis dari Dirjen Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia.

Keunikan kopi liberika yang dapat tumbuh di lahan gambut yang bersifat asam. Ketebalan dan tingkat kematangan gambut yang tidak sama untuk setiap lokasi, sehingga memerlukan sentuhan bioteknologi dan teknologi budidaya yang tepat dalam upaya meningkatkan produksi dan mutu kopi liberika yang berkualitas. Untuk upaya pengembangan smart farming agriculture untuk budidaya tanaman kopi liberika di lahan gambut seperti smart coffee planting, smart coffee processing dan lain-lain untuk menuju pola pengembangan pertanian modern.

Peneliti dari Universitas Jambi telah mengidentifikasi senyawa yang ditemukan pada kopi liberika yang telah diroasting yaitu kafein, trigonelline, asam nikotinat, dan dehydrocaferol (Heriyanti et al. 2019) dan struktur kopi yang diroasting berbentuk amorf (Perdana et al. 2017). Selain itu juga sudah dikembangkan alat sensor untuk gas buangan hasil roasting (Samsidar et al. 2019). Selama ini penanganan pasca panen kopi liberika masih dilakukan secara sederhana. Untuk mendapatkan kualitas kopi liberika yang unggul maka perlu dilakukan smart processing dalam pengolahan kopi.

Kopi liberika yang tumbuh pada lahan gambut yang spesifik dan unik dapat dikembangkan menjadi industri pedesaan yang ramah lingkungan. Selain itu dapat dikembangkan menjadi kawasan eko-eduwisata kopi liberika yang pada akhirnya dapat meningkatkan ekonomi dan pendapatan daerah. Penting dilakukan eksplorasi mengenai tata kelola kopi, penelitian kopi dan dan diseminasi kopi liberika. Selama ini belum ada model tata kelola kopi liberika di lahan gambut, karena penegelolaan lebih spesifik disebabkan karakteristik lahan gambut bersifat asam. Perlu pengembangan kopi liberika dengan tahapan-tahapan yang jelas dan terukur mulai dari pengelolaan lahan gambut, penyiapan bibit, budidaya dan pemeliharaan, pengendalian hama dan penyakit, pasca panen, pengolahan hasil untuk berbagai jenis produk, dan pemasaran.

Kabupaten Tanjung Jabung Barat selain memiliki lahan gambut, juga memiliki kawasan mangrove yang unik. Keunikan kawasan mangrove pantai timur Sumatera mengalami sedimentasi yang mengakibatkan terjadi perubahan dan variasi struktur substrat sehingga komunitas organisme di kawasan tersebut menjadi lebih beragam (biodiversity). Hal itu dapat mempengaruhi keseimbangan ekosistem agar selalu stabil. Keunikan dari kedua kondisi ekosistem tersebut menjadi daya tarik yang sangat besar dan potensi ilmiah yang tinggi.

Saat ini kondisi hutan mangrove di Kabupaten Tanjung Jabung Barat telah mengalami kerusakan. Kerusakan hutan mangrove ini telah menyebabkan berbagai dampak negatif ekologi, ekonomi dan sosial. Mengingat pentingnya fungsi dan peranan hutan mangrove tersebut, maka hutan mangrove mendesak untuk segera dikelola sesuai dengan fungsi dan peruntukan lahannya. Pemulihan mangrove harus dilakukan karena beberapa alasan. Pertama kepentingan ekologis dan nilai-nilai lingkungan hutan mangrove telah lama terabaikan. Kedua, tingginya subsistensi ketergantungan pada sumberdaya alam hutan mangrove. Ketiga, kerusakan hutan mangrove skala besar yang terjadi di seluruh dunia mengarah ke erosi pesisir, penurunan sumberdaya perikanan dan konsekuensi lingkungan lainnya (Kairo, Guebas, Bosire dan Koedam, 2001).

Upaya pengelolaan ini tidak bisa lepas dari kajian-kajian riset yang terkait. Pengelolaan hutan mangrove dalam mengupayakan pelestarian lingkungan di kawasan pesisir, merupakan satu model penelitian yang penting untuk melihat dampak kegiatan rehabilitasi hutan mangrove dan strategi pengelolaan hutan mangrove (Utomo, 2017). Kajian fungsi ekologis,ekonomi dan sosial budaya yang dapat menjadi penunjang “sistem penyangga kehidupan” bagi daerah di sekitar mangrove, juga merupakan riset yang penting untuk didalami (Granek dan Ruttenberg, 2008). Selanjutnya kegiatan restorasi dan pengelolaan mangrove, kajian pemanfaatan mangrove untuk kesehatan dan pangan juga harus dilakukan.

Hutan mangrove juga memiliki nilai wisata melalui daya tarik flora dan fauna yang berasosiasi dalam ekosistemnya. Formasi vegetasi yang unik, satwa serta asosiasi yang ada di dalam ekosistem mangrove memiliki potensi yang dapat dijual sebagai obyek wisata. Hal ini dikarenakan hutan mangrove merupakan suatu habitat bagi beberapa tipe biota yang dikategorikan dalam tiga kelompok yang memiliki aktivitas yang saling berhubungan,yaitu biota aquatik (perairan), semiaquatik, dan teresterial (darat).

Dengan dimiliki dua ekosistem (gambut dan mangrove) yang unik dalam satu kawasan pada Kabupaten Tanjung Jabung Barat, maka menarik untuk mengintegrasikan kopi liberika lahan gambut dan mangrove sebagai pusat edukasi dan wisata. Karena prinsip dasar ekowisata berkelanjutan, adalah menyelaraskan pertumbuhan ekonomi berbasis ekosistem dengan pelestarian alam dan kearifan budaya lokal. Universitas Jambi sebagai pendidikan tinggi dengan sumberdaya yang mumpuni dapat berperan untuk mengembangkan potensi kawasan tersebut melalui pendirian Pusat Unggulan Ipteks (PUI) Eko-Eduwisata Kopi Liberika yang terintegrasi kawasan mangrove (E2KOLIM). Sejauh ini belum ada lembaga pada perguruan tinggi yang fokus menangani bidang kopi liberika lahan gambut dan mangrove. PUI ini diharapkan sebagai pusat inovasi dan rujukan tata kelola dan model pengembangan kopi liberika lahan gambut dan kawasan mangrove sekaligus berfungsi sebagai model eko-eduwisata dalam mengimplementasikan program kampus merdeka dan merdeka belajar. PUI ini akan berdampak bagi ekonomi masyarakat dan menumbuhkan industri pedesaan berbasiskan agroindustri dan lingkungan.